Sabtu, 11 Oktober 2014

Psikologi Manajemen-Tulisan Part 1

KASUS PSSI

konfliknya PSSI yang sudah lama terjadi dan belum juga ada penyelesaian yang pasti hingga sekarang. Hal ini disebabkan oleh kurang becusnya ketua PSSI tersebut dalam mengelola organisasi tersebut. Padahal PSSI merupakan organisasi besar yang bernaung langsung di bawah pimpinan Indonesia dan organisasi sepak bola dunia yaitu FIFA (Federation International Football Asosiation). Akan tetapi organisasi ini tidak menunjukkan kinerja yang baik di mata masyarakat Indonesia sendiri bahkan di mata dunia.
Hal utama yang menyebabkan organisasi ini gagal di karena kan oleh pemimpin PSSI yaitu Nurdin Khalid yang telah gagal memimpin dan mengelola organisasi ini. Sudah banyak kasus yang di alami ketua PSSI ini, yang paling utama adalah kasus korupsi yang telah ia lakukan terhadap dana-dana yang harus nya di alokasikan untuk kemajuan sepak bola Indonesia, tetapi malah di masukkan ke dalam rekening pribadi nya, dan itu sebagai bukti dia pernah di nyatakan sebagai terpidana atas kasus korupsi dalam PSSI. Dan akibat dari itu, FIFA melayangkan surat penurunan kepada Nurdin Khalid untuk meninggalkan kursi singgasananya sebagai ketua PSSI, akan tetapi Nurdin Khalid malah menutupi surat yang di layangkan FIFA itu dari publik.
Solusi yang telah di lakukan organisasi
Ketua umum PSSI akhirnya mengumumkan mengundurkan diri dari jabatan telah di diemban dalam suka maupun duka, dalam kebebasan maupun dalam kekurungan. Setelah Nurdin Khalid meninggalkan jabatan nya, kisruh PSSI tidak selesai sampai disitu saja. PSSI perlu kurang lebih 5-7 kali pemilihan ulang ketua umum PSSI. Namun pada akhirnya, Johar Arifin pun menempati posisi yang telah di tinggalkan Nurdin Khalid organisasi PSSI.
Kondisi organisasi saat ini
Kondisi PSSI saat ini bisa di ibaratkan seperti "Kecoa yang sedang terbalik". PSSI di bawah komando Johar Arifin berusaha melanjutkan revolusi atau perubahan pada sepak bola Indonesia, tapi apalah daya situasi yang terjadi seakan-akan berjalan di tempat. Liga Pimer Indonesia (LPI) yang di usung Johar Arifin kurang mendapat respon positif dari beberapa klub papan atas di Indonesia. Sepertinya klub-klub tersebut lebih senang dengan konsep Liga Super Indonesia (LSI) yang diusung pengurus PSSI yang lama.
Berbagai langkah di buat PSSI sekarang untuk menganggapi masalah dualisme kompetisi ini. Mulai dari memberi peringatan bagi pemain yang berlaga di Liga Super Indonesia (LSI) tidak akan mendapatkan kesempatan membela Tim Nasional Indonesia.
Menurut saya
Kasus ini merupakan kasus yang sulit karena konflik terjadi di pemimpin. Seorang pemimpin tidak bisa menjalankan amanat nya dengan baik dan benar sehingga kehilangan kepercayaan dari bawahan nya dan dari masyarakat.
Jika saya berada di posisi pemimpin dan bawahan saya ingin saya mundur karena kepemimpinan saya kurang, saya akan menguatkan hati, menerima untuk mengundurkan diri demi membangkitkan kepercayaan seluruh anggota
Jika saya berada di posisi anggota, saya harus mempunyai insiatif dan berperan aktif untuk menyadarkan atau paling tidak mempengaruhi pemimpin saya. Akan lebih baik jika saya menjadi tangan kanan pemimpin saya dengan syarat tidak memberi pengaruh buruk pada pemimpin saya.
Jika tetap tidak berhasil, mungkin saya akan menghubungi lembaga yang berwewenang untuk membicarakan masalah yang terjadi.
Alangkah lebih baik jika kita memilih pemimpin yang baik sebelum terpilihnya pemimpin. Calon pemimpin harus memiliki kualifikasi untuk memimpin perusahaan/organisasi tersebut, bukan kasus terpidana seperti kasus di atas. Konflik tersebut saat ini mungkin berakhir dengan tergantinya pemimpin PSSI yang baru yaitu Johar Arifin, namun muncul lagi masalah baru yang harus di selesaikan Johar Arifin. Ini adalah hal yang lumrah yang harus di hadapi sang pemimpin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar